🌈 Menemukan "Jiwa" di Balik Bongkahan Beton Pinggir Jalan - The Concrete Paradox: On Art, Irony, and Finding Where You Belong

(68)inFreeCompliments
Reblog
# 🏗️ Antara Beton, Warna, dan Poster: Pelajaran Tentang Nilai Diri di Pinggir Jalan

Halo teman-teman di Hive! 👋

Siang itu, saat saya sedang melintas di kawasan Jalan Biliton, Surabaya, mata saya mendadak menangkap sebuah pemandangan yang kontras. Di tengah teriknya cuaca kota pahlawan, ada sebuah objek yang terasa sangat "salah tempat" namun sekaligus mencuri perhatian di tepi jalan. Sebuah pemandangan yang akhirnya membuat saya menepi sejenak dan termenung cukup lama.

$1

Si Pekerja Keras yang Sedang "Cuti"

Objek itu sebenarnya adalah sebuah Box Culvert. Bagi mereka yang berkecimpung di dunia konstruksi, benda ini adalah "pahlawan di balik layar." Tugas aslinya sangat berat: ia harus ditanam jauh di dalam tanah, memikul beban berton-ton kendaraan yang melintas di atasnya, sambil memastikan aliran air kota tetap lancar.

Saya sempat mendekat dan memperhatikan betapa kokohnya ia. Siku-sikunya membentuk sudut yang presisi, terbuat dari beton bertulang yang dirancang untuk bertahan puluhan tahun. Namun di sini, ia tidak sedang terkubur. Ia terongok di atas permukaan, seolah sedang mengambil cuti panjang dari tugas beratnya.

Warna yang Melawan Kelabu

Yang membuat saya terkesima bukan hanya kekuatannya, tapi penampilannya. Seseorang—entah siapa, mungkin sosok dengan inisial "XGD"—memilih untuk tidak membiarkan beton ini mati dalam warna abu-abu yang membosankan.

Permukaan kasarnya telah disulap menjadi kanvas yang meledak-ledak. Ada sapuan warna magenta yang beradu dengan biru langit dan kuning matahari. Gaya coretannya bebas, abstrak, dan berani. Di tengah karatnya pagar seng dan tanah gersang, warna-warna ini seolah berteriak: "Aku masih punya nyawa!"

Realita yang Ironis: Seni vs Poster

$1

Namun, ketika saya melangkah lebih dekat, ada pemandangan yang menyesakkan. Di atas lapisan cat estetik itu, justru menempel sisa-sisa poster iklan dan pengumuman yang asal tempel.

Inilah ironinya: meski sudah bersolek dengan seni, bagi sebagian orang, beton ini tetaplah dianggap sebagai "lahan kosong" atau tempat sampah visual. Ada tabrakan antara niat estetik si seniman dengan ketidakpedulian jalanan yang acuh tak acuh. Karya seni itu tidak sepenuhnya diapresiasi; ia justru "ditindih" oleh kepentingan praktis yang egois.


Pelajaran Hidup: Berada di Tempat yang Tepat

Melihat pemandangan ini, saya merenungkan satu hal penting tentang perjalanan hidup kita:

"Seberapa hebat pun potensimu, kamu hanya akan dihargai jika berada di tempat yang sesuai dan bersama mereka yang mampu melihat nilaimu."

Si beton ini memberikan saya tiga pelajaran besar:

  1. Dilema Lingkungan: Jika beton ini diletakkan di galeri seni, orang akan mengaguminya sebagai instalasi kontemporer. Jika ditanam di bawah jalan raya, insinyur akan memujinya sebagai struktur yang handal. Tapi di pinggir jalan ini? Ia hanyalah sasaran empuk tempelan poster.
  2. Pentingnya Menemukan "Rumah": Terkadang kita merasa tidak berharga bukan karena kita kurang hebat, tapi karena kita berada di lingkungan yang tidak mengerti nilai kita. Seperti beton ini, keindahan dan kekuatannya ada, tapi tempatnya saat ini tidak mendukung untuk diapresiasi.
  3. Keteguhan Jati Diri: Meski ditutup poster iklan dan dianggap sampah oleh orang lewat, beton itu tidak hancur. Ia tetap beton yang kuat. Ini mengingatkan saya bahwa harga diri kita tidak boleh berubah hanya karena orang lain gagal melihat nilai yang kita miliki.

💬 Bagaimana Menurut Kalian?

Pernahkah kalian merasa seperti beton ini? Sudah berusaha memberikan yang terbaik dan tampil "berwarna", tapi lingkungan kalian malah memberikan "tempelan poster" ketidakpedulian?

Mari kita diskusikan di kolom komentar. Saya sangat ingin mendengar perspektif kalian! 👇


🏗️ The Concrete Paradox: On Art, Irony, and Finding Where You Belong

While I was passing through Biliton Street in Surabaya at noon, the scorching sun led me to an unexpected sight. Right there on the roadside, I spotted a massive concrete block that felt completely out of place, yet impossible to ignore. It was a scene that made me pull over and reflect on the hidden stories of our city.

$1

A "Workhorse" on a Break

The object was a Box Culvert. In the world of construction, these are the unsung heroes. Their job is grueling: buried deep underground, carrying the weight of thousands of cars, and keeping the city's veins flowing.

Standing close to it, I couldn't help but admire its raw strength. The precise angles and the solid reinforced concrete showed it was built to withstand immense pressure. But here it was, sitting on the surface, looking like it was taking a long-overdue vacation from its heavy-duty life.

Color Against the Gray

Someone—perhaps an artist tagged as "XGD"—decided this cold, gray concrete didn't deserve to die in boredom. They turned the rough surface into an explosive canvas. Splashes of magenta, electric blue, and sun-yellow fought for space. The strokes were wild and abstract. Against the rusty fences and dry dirt, these colors screamed: "I’m still alive!"

The Irony: Art vs. Advertisements

$1

But as I stepped closer, I saw a frustrating irony. Stuck right on top of that beautiful paint were remnants of cheap advertisement posters and random flyers.

It’s a gritty snapshot of urban reality. Despite its effort to be beautiful, to some, this concrete is still just "empty space" or a visual trash can. There is a clash between the artist’s aesthetic intent and the indifferent pragmatism of the street. The art isn't fully appreciated; it's literally "smothered" by selfish interests.


Life Lesson: Being in the Right Place

Looking at this scene, I realized a profound truth about our own value:

"No matter how great your potential is, you will only be truly valued if you are in the right place, surrounded by those capable of seeing your worth."

This block of concrete taught me three things:

  1. The Environment Dilemma: If this was in an art gallery, people would admire it as a contemporary masterpiece. If it were underground, engineers would praise its reliability. But on this random sidewalk? It’s just a target for illegal flyers.
  2. Finding Your "Home": Sometimes we feel worthless not because we lack talent, but because we are in an environment that doesn't speak our language.
  3. Internal Strength: Despite being covered in posters and ignored by passersby, the concrete remains solid. It hasn't crumbled. It reminds me that our core value shouldn't change just because the world fails to see it.

🏗️ 混凝土悖论:关于艺术、讽刺与“放对地方”的人生哲理

正午时分,当我路过泗水的勿里洞路 (Jalan Biliton, Surabaya) 时,烈日下的一幕奇景让我停下了脚步。在路边,我发现了一个完全“不合时宜”的混凝土块,它在那里散发着强烈的存在感,让我不禁陷入了沉思。。

$1

歇息的“硬汉”

这个物件其实是一个箱涵 (Box Culvert)。在建筑世界里,它们是无名英雄。它们的工作极其艰巨:深埋地下,承受成千上万辆汽车的重量,并确保城市排水畅通。

走近它,我不禁感叹它那种原始的力量感。精准的 $90^\circ$ 直角和坚固的钢筋混凝土表明,它天生就是为了承受重压而生的。但现在,它就这么待在地面上,仿佛在繁重的工作之余给自己放了个长假。

撞色对抗阴郁

有人——或许是署名为 “XGD” 的艺术家——决定不让这块冰冷灰暗的混凝土在沉闷中消亡。他们把粗糙的表面变成了爆发式的画布。洋红、电感蓝和阳光黄交织在一起。笔触狂野而抽象。在生锈的铁丝网和干涸的土地背景下,这些色彩仿佛在呐喊:“我还活着!”

讽刺的现实:艺术与小广告的博弈

$1

但当我走得更近时,我看到了令人沮丧的讽刺一幕。在那些漂亮的油漆之上,竟然贴满了廉价的广告海报和传单。

这就是残酷的城市现实。尽管它努力变得美丽,但在某些人眼里,这块混凝土依然只是“空白地块”或视觉垃圾桶。艺术家的审美意图与街道冷漠的实用主义在这里发生了碰撞。艺术没有得到完全的尊重,它被自私的利益“窒息”了。


人生启示:呆在正确的地方

看着这一幕,我领悟到了一个关于自我价值的深刻真理:

“无论你的潜力有多大,只有当你处于正确的地方,被能够发现你价值的人包围时,你才会被真正珍惜。”

这块混凝土教会了我三件事:

  1. 环境的困境: 如果这在美术馆,人们会把它当成当代杰作来膜拜;如果它在地下,工程师会赞美它的可靠。但在路边?它只是小广告的活靶子。
  2. 寻找“家”: 有时候我们觉得一文不值,并不是因为我们缺乏才华,而是因为我们所处的环境不理解我们的语言。
  3. 内在的坚韧: 尽管被贴满海报、被路人无视,混凝土依然坚固,没有崩塌。它提醒我,我们的核心价值不应因为世界没看见而改变。

Note : Translation tool using Google Translate and using AI Generated based my input, real data also the photos is my own worked.

·inFreeCompliments·by
(68)
$1.85
||
Sort: